Selasa, 09 November 2010

Pertimbangan Awal dalam Penelitian Sosial

Lima pertimbangan yang perlu diperhatikan peneliti dalam melaksanakan penelitian sosial mengacu pada Bryman (2004):

a. Hubungan teori dan Penelitian

Umumnya istilah teori didefinisikan sebagai sebuah penjelasan atas pengamatan yang teratur. Istilah regularities ( keteraturan) menunjukkan bahwa yang dibicarakan atau yang dibahas dalam teori adalah hal-hal yang umum yang telah terjadi di masyarakat. Dalam kajian sosiologis teori dibagi berdasarkan cakupan keluasan bahasan, ada middle range dan grand theories. Dimana menurut Merton middle range theories atau teori taraf menengah merupakan jembatan penghubung teori umum mengenai sistem sosial yang terlalu jauh dari kelompok-kelompok perilaku tertentu, organisasi, ddan perubahan untuk mempertanggungjawabkan apa yang diamati, dan gambaran terinci secara teratur mengenai hal-hal tertentu yang tidak di generaliasi sama sekali. Sedangkan grand teori adalah sebagai pedoman peneliti dalam mengumpulkan fakta empiris. Sehingga ide-ide dalam teori-teori grand lebih bersifat abstrak.

Dari paparan diatas menjelaskan fungsi penting dari sebuah teori dalam penelitian sosial terutama. Teori adalah mata yang bisa di pakai untuk melihat berbagai macam realitas sosial. Dalam logika berpikir deduktif dalam penelitian kuantitatif teori menjadi hal paling mendasar. Teorilah yang menentukan hipotesis, penurunan dari variabel ke indikator dan item-item, serta teori menjadi pijakan dasar dalam proses pengumpulan data. Pertimbangan faktor-faktor yang peneliti pikir mempengaruhi penelitiannya ditentukan oleh teori yang peneliti pakai. Inilah salah satu perbedaan antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, yaitu kedudukan teori. Dalam logika berpikir induktif pada penelitian kualitatif pijakan dasar penelitiannya adalah temuan lapang (data hasil temuan dilapang) yang akan dianalisis dengan teori yang tepat. Sedangkan dalam deduktif, pijakan dasarnya adalah teori yang digunakan untuk melihat atau membuktikan dengan realitas yang ada. Sehingga untuk menjawab sebuah rumusan dalam penelitian kuantitatif digunakan teori, yang nantinya akan menjabarkan variable menjadi indikator dan item-item serta teori juga menjadi pijakan dalam merumuskan sebuah hipotesis penelitian.

b. Pertimbangan Epistimologis

Pertimbangan kedua adalah berkaitan dengan epistimologis. Seorang peneliti harus mengetahui paradigma yang ia gunakan dalam penelitiannya, ini berkaitan dengan epistomologis sebuah ilmu pengetahuan. Ada tiga jenis epistimologis yang dijelaskan yaitu positivism, realism dan interpretatif. Positivism yaitu sebuah posisi epistimologis yang menganjurkan aplikasi metode ilmu alam pada studi realitas sosial. Keharusan penelitian yang bebas nilai dan pengamatan-pengamatan yang dihasilkan oleh panca indera serta menggunakan analogi hukum sebab akibat adalah prinsip yang dikemukakan dalam positivism. Sedangkan realism meyakini bahwa sebuah ilmu alam dan ilmu sosial bisa di aplikasikan dengan pendekatan yang sama jenisnya untuk mengumpulkan dan menjelaskan data. Ada dua jenis realism, yaitu realism empiris disebut juga dengan realisme naif dan realisme kritis. Salah satu perbedaan keduanya adalah bahwa realisme naif memandang realitas sosial mampu dipahami dengan sempurna meallui hukum sebab akibat dengan kebebas nilaian nya, sedangkan realisme kritis mengakui bahwa mungkin realitas tidak bisa ditangkap manusia (peneliti) secara sempurna karena keterbatasan intelektual peneliti. Dan interpretative adalah pandangan bahwa suatu realitas atau objek tidak dapat dilihat secara parsial dan dipecah ke dalam beberapa variabel (Sugiyono, 2004:10).

c. Pertimbangan Otologis

Objektivisme yaitu sebuah keyakinan bahwa realitas itu berada diluar dari aktornya, atau realitas itu bersifat mandiri sehingga bebas nilai. Konstruktivisme justru kebalikannya, menganggap bahwa realitas itu bias dan merupakan konstruksi sosial. Realitas bias dikarenakan realitas itu menurutnya adalah hasil dari ide yang berada dalam diri manusia, tidak terpisah dari si peneliti (aktor). Karena realitas yang dutangkap dalam penelitian adalah realitas hasil interaksi peneliti dengan orang yang diteliti dan hasil interpretasi peneliti.

Relationship to social research

d. Strategi Penelitian : Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.

Perbedaan dasar dari metode penelitian kuantitatif dan kualitatif adalah, yang pertama yaitu penelitian kuantitatif menggunakan logika berpikir deduktif (khusu-umum), menguji teori (sehingga teori menjadi aspek sangat penting dalam penyusunan rencana penelitian), model pengetahuan alam dan bersifat objektivisme (realitas berada diluar aktor). Sedangkan kualitatif menggunakan logika berpikir induktif (umum-khusus), menggunakan turunan teori yang berdasar pada data lapang, bersifat interpretativisme (melihat secara holistik bukan parsial) dan konstuktivisme (beranggapan bahwa realitas itu adalah konstruksi sosial).

e. Pengaruh atas penelitian Sosial

Ada 5 hal yang mempengaruhi sebuah penelitian sosial yaitu :

· Teori

· Nilai-nilai

· Pertimbangan Praktis

· Epistimologi

· Ontologi.

Untuk bagian teori, epistimologi dan ontologi telah dipaparkan diatas. Pertimbangan praktis yang dimaksud disini adalah bahwa pertimbangan dalam memutuskan metode apa yang akan dipakai dalam sebuah penelitian juga adalah hal yang penting. Sedangkan nilai berkaitan dengan adanya kemungkinan pergeseran nilai dalam proses penelitian pada waktu yang berbeda. Kepercayaan pribdai dan perasaan peneliti saat penelitian juga adalah sebuah nilai yang nantinya mempengaruhi sebuah penelitian sosial.

2. Penelitian Donbusch and Hikcman dengan tema “Riesman’s historical theory”, penelitian tentang sebuah arah trend sejarah kelangsungan orang Amerika. Tentang konsumsi dan iklan yang baik atau menarik. Mereka menggunakan sebuah metode content analysis atau analisis isi, yaitu sebuah metode penelitian tanpa menganggu orang lain(tidak lewat wawancara atau bertanya-tanya dengan informan). Teori mereka menggunakan penjelasan tentang fenomena yang mereka angkat, dibagian proposisi teoritik mereka memaparkan fenomena yang mereka angkat dengan lebih fokus yaitu masalah atau fokus nya. Data dikumpulkan dengan cara analisis isi, samplenya adalah memilih untuk mempelajari Ladies’ Home Journal 1890-1956, dengan memilih 1 isu setiap tahun, l sehingga ada 41 isu yang menjadi sample dari 67 isu.

Dari pemaparan Rose tentang penelitian tersebut, bila dikaitkan dengan apa yang dikemukakan Bryman tentang pertimbangan-pertimbangan dalam penelitian sosial. Maka, bisa dikatakan bahwa penelitian Dornbusch dan Hickman menggunakan sebuah kerangka teoritik yang sudah jelas, sehingga penurunan pada fokus dan masalah penelitian berdasarkan turunan dari teori tersebut.

Content analisis memang adalah sebuah metode baru dalam penelitian sosial. elopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi[1]. Analisis isi sebenarnya merupakan sebuah metode penelitian yang memiliki asumsi bahwa teks yang ada bukanlah sesuatu hal yang bebas nilai, pasti ada latar belakang yang menyebabkan teks itu bisa seperti itu. Dan teks bukan sesuatu yang hanya memiliki makna tunggal, teks itu hidup dan menjadi beraneka macam rupa didalam pandangan interpretasi manusia. Dan analisis isi merupakan satu dari berbagai jenis metode analisis teks (ada hermeneutik, semiotik, dan lain-lain). Namun sebagai metode penelitian analisis teks (bedakan teks dan analisis teks), metode ini memiliki logika deduktif (yaitu memulai dari teori) dengan penurunan fokus penelitian juga dari teori. Analisis teks juga adalah sebuah metode yang ilmiah dengan keobjektivannya. Objektiv dikarenakan peneliti fokus terhadap apa yang dikemukakan oleh teks tersebut, siapa yang mengemukakan dan latar belakang teks tersebut dikemukakan, peneliti mencoba membaca teks dengan apa yang ditampilkan oleh teks tersebut tanpa peneliti masuk ke dalam teks tersebut. Disinilah fungsi teori, yaitu untuk menghindari masuknya peneliti kedalam objek yang diteliti, sehingga saat melakukan interpretasi terhadap teks peneliti cukup menfokuskan pada kerangka teoritik yang telah dipakai dan teksnya.

Lagika sebaliknya justru ada pada penelitian Becker. Backer mencoba menelusuri aktivitas pengguna ganja, tanpa membawa sebuah kerangka teori. Dia justru membangun kerangka teoritik dari data-data yang dia dapat dilapang, karena fokus penelitiannya adalah “becoming a marijuana users”. Logika induktif yang dia pakai dalam penelitian tersebut.

Inilah perbedaan signifikan antara penelitian yang dilakukan oleh Dornbusch dan Hickman dengan penelitian Becker. Kalau Dornbusch dan Hicklam menggunakan logika deduktif, dimana mereka dengan jelas merumuskan teori yang ada dalam rencana penelitiannya. Teori ini kemudian menjadi dasar perumusan fokus penelitian, penurunan ke variabel dan indikator, serta pemilihan populasi dan sampel. Sedangkan Becker menggunakan logika induktif, dimana teori dipilih berdasarkan data yang ada dilapang. Teori yang dikemukakan dalam rencana penelitian bisa berubah, sesuai dengan apa yang peneliti temukan di lapang.

3. C. Wright Mills mengungkapkan bahwa ide atau pemahaman seseorang terhadap sesuatu itu berasal atau dipengaruhi oleh lingkungan dan waktu. Bahwa tindakan atau fenomena individual (termasuk ide) berkaitan dengan sistem dan struktur yang ada diluar individu. Dengan lata lain hal-hal yang berkaitan dengan individu terhubung dengan struktur sosial yang lebih luas. Sehingga menarik untuk menulusuri sejarah seseorang dari latar belakang sosial dan lingkungan serta waktu. Sedangkan Peter L Berger dengan teori Konstruksi Sosial, mengemukakan bahwa fenomena yang dialami seseorang sehari-hari adalah sebuah realitas sosial, yang tentunya pasti berhubungan dengan masyarakat (sistem serta struktur yang luas) melalui proses internalisasi, objektivikasi dan eksternalisasi. Kenyataan hodup sehari-hari yang diterima begitu saja adalah sebuah realitas. Menurut Berger kehidupan masyarakat itu terbentuk dalam proses yang terus menerus, sehingga proses internalisasi, eksternalisasi dan objektivikasi adalah proses yang bersifat dialektik. Dan lebih lanjut berger mencoba mengkritisi pendekatan posistivis dalam penelitian sosial. Bagi Berger gejala sosial berbeda dengan gejala alam, sehingga kalau positivis menyamakan gejala sosial dengan gejala alam menurutnya hal itu kurang tepat, karena baginya gejala sosial itu bersifat alamiah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu menurut Berger penelitian sosial harusnya diarahakan kepada sebuah situasi yang wajar dan alamiah, sehingga sisi subjektivitas dari situasi atau fenomena terlihat. Mampu memahami dunia sehari-hari inilah yang menurut Berger menjadi pokok dalam Sosiologi dan menjadi tugas utama dalam sebuah metode penelitian sosial. Sehingga kalau mau penelitian tentang pengemis maka lihatlah dunia sehari-hari atau aktivitas sehari-hari pengemis tersebut, karena aktivitas sehari-harilah yang mencerminkan realitas sebenarnya.

Dalam artikel dengan judul “Street Crime, Labor Surplus and Crimical Punishment” oleh Andrew L. Hoschstetler, sebuah penelitian dengan menggunakan penjelasan kerangka teoritikal konflik. Dengan mencoba mengkomparasikan sampel pada populasi 25.000. kerangka teoritik pada penelitian tersebut jelas dan telah dipakai sejak awal sebagai dasar penulisasn rencana penelitian, baik itu penurunan variabel sampai pada item pertanyaan, ini logika deduktif dalam penelitian kuantitatif. Berbeda dengan apa yang di lakukan Berger.



[1] http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/metode-analisi-isi-reliabilitas-dan-validitas-dalam-metode-penelitian-komunikasi/

1 komentar:

  1. Casino Roll
    Casino Roll is a social gambling platform established in 2012 총판모집 by a group of casino enthusiasts in Dublin, Ireland. It aims to provide a 코인 일정 사이트 platform for 슬롯머신 all gamblers in  Rating: 벳 티비 3.2 · ‎Review 실시간 스포츠 배팅 by CasinoRoll

    BalasHapus